Author: Kamehoshi Yuukou a.k.a Denanda Aditya R
Pairing : Aki/Ella, Yuma/Ella
Genre : Full of romance, 3/4 hurt
Rating : PG-13
Douzo~ (comment are absolutely appreciated XD)
***
Hembus
angin menyebar dedaunan yang mulai berubah warna. Satu persatu jingga
maple berterbangan mengikuti arah angin. Semburat merah muda memperindah
latar belakang maple tersebut, tak ingin kalah warna jingga langit ikut
meramaikan. Diantara keindahan latar tersebut nampak sosok mungil
berdiri di balik tirai jendela putih yang terhembus oleh angin musim
gugur itu.
“Aki.” Lirihnya diikuti oleh gemerisik daun yang saling bergesekan. Kilau bening jatuh dari manik dark brown sosok tersebut. Kenangan akan sosok lain terlintas dalam benaknya, yang masih melekat di ingatannya.
“Doushita?”
Ucap seorang pria yang berjalan mendekat kearah sosok yang berada di
jendela yang tak lain adalah wanita yang dinikahinya 5 bulan yang lalu
itu. Wanita itu segera menundukkan kepalanya, tak menghadap suaminya.
Sebisa mungkin dia tahan agar airmatanya tak menetes.
“Iie.” Lirihnya.
“Katakan, apa yang kamu pikirkan, Ella-chan.”
Bisik pria itu dalam bahu Kanzaki Ella. Ia merasa wanita dalam
pelukannya itu bergetar, seakan menahan untuk tidak meneteskan airmata
lagi. Dieratkan pelukannya menunggu untuk istrinya itu mengucapkan
sesuatu dari mulutnya. Isakkan lirih terdengar di kedua telinga pria
itu. Ia eratkan pelukan itu, berusaha untuk menahan beban yang
ditumpukan olehnya. Nyaman dan lembut.
“Tidak menjawab?” tanyanya sekali lagi sambil memejamkan mata, menikmati scent yang menguar dari istrinya itu. Lalu ia merasa wanitanya membalikkan badan dan memandang kedua hazel miliknya.
Kilauan itu jatuh dari kedua mata istrinya. Entah kenapa dia tak kaget,
karena ia tahu sejak awal musim gugur beberapa hari yang lalu ia merasa
istrinya itu agak berbeda dari biasanya. Tapi ia tak segera bertanya
mengenai masalah itu, ia hanya menunggu waktu yang tepat. Seperti saat
ini.
“Hm?” Gumam pria yang bernama Nakayama Yuma itu.
Disekanya bulir yang menetes dikedua pipi Ella dengan ibu jarinya.
Kemudian ia cubit pipi kanan istrinya itu sambil mengulas senyum di
wajahnya.
“Iie, aku hanya mengingat masa lalu. Boleh aku jujur padamu, Yuma-kun?”
“Tentu
saja, baka Ella! Hahaha. Aku kan suamimu.” Kata Yuma sambil mencolek
ujung hidung belahan hatinya itu. Ella berjalan ke sisi tempat tidur dan
mendudukkan dirinya disana. Sementara Yuma melipat tangan di dadanya
sambil bersandar pada tembok dekat jendela.
“Yang sedang ku pikirkan adalah Aki.”
“Aki? Musim gugur?”
“Iie, seorang yang masih berada dalam bayanganku.”
“Hm...Oke, lanjutkan. Aku akan mendengarkanmu.”
-FLASHBACK-
“Yabai!
Hujan! Dan aku gak membawa payung!” ujar seorang gadis yang sedang
berdiri sambil mengaduk-aduk tasnya di sebuah halte. Dirinya merasa
kesal karena hujan yang turun di pagi yang awalnya cerah. Dia takut
terlambat. Yah sebagai seorang murid yang sudah di cap teladan pantang
untuknya melanggar tata tertib itu.
‘BWUSH’
Bis
itu melaju dengan kencang disaat dia masih berkutat pada tasnya. Tanpa
berpikir panjang dia berlari mengejar bis itu. Tak dipedulikan tubuhnya
bash kuyup oleh derasnya hujan.
“Chotto matte!”
teriaknya pada bis itu. Namun bis tersebut tak juga berhenti. Dikerahkan
seluruh tenaganya untuk mengejarnya lagi. Teriakannya kembali
terdengar. Tapi malangnya...dia pun menyerah. Dia sudah kehabisan
tenaganya. Kedua tangannya menumpu pada kedua lututnya. Dengan nafas
yang terengah-engah dia berpikir masa bodoh lah dengan semua tata
tertib, yang penting aku tetap masuk sekolah.
“Lebih baik
terlambat atau tidak sama sekali kan?” gumamnya. Disaat akan berlari
kembali dirasakannya tetesan air hujan tak berjatuhan di tubuhnya. Ia
mendongak ke atas. Sebuah payung biru telah berada dalam genggaman
seseorang yang dikenalnya. Meskipun kacamatanya kini terbasahi oleh
tetes-tetes air. Ia bisa tahu dari postur tubuh sosok tersebut. Rivalnya. Mimegumi Aki.
Honey dan dark brown bertemu. Gadis itu masih terpaku pada rivalnya. Ia tak menyangka rivalnya
itu bisa bersikap baik kepadanya. Seperti halnya Aki, Ia terdiam
melihat gadis di depannya itu tak kunjung merespon kehadirannya. Ah
dunia serasa milik berdua. Tapi kali ini bukan sepasang kekasih.
Sepasang rival tepatnya.
“Kamu mau terlambat
hah?” tanya Aki kepada gadis itu. Gadis itu tampak
mengerjap-mengerjapkan kedua matanya. Di sudah kembali ke alam sadarnya
rupanya.
“Eh, anoo... Ya enggak lah! Aku kan
murid teladan!” ujar gadis itu sambil menyambar payung biru dari tangan
Aki dan berlari menuju bis. Sedangkan Aki hanya bisa diam karena
terkejut akan respon yang ditunjukkan. Tapi kemudian ia tersenyum, yah
senyum yang cerah di kala hujan yang deras.
“C’mon Aki no baka! Kelas
dimulai 2 menit lagi!” teriak gadis itu dari pintu bis. Aki pun segera
berlari menuju bis tersebut. Tak ingin gelar murid teladan yang ia
rebutkan jatuh ke tangan gadis itu kembali.
“Baka Ella! Jangan panggil aku Baka! Aku lebih unggul darimu!” ujarnya ketika sampai di muka pintu. Dia memang sudah menganggap Ella sebagai rivalnya sejak diterima di sekolah itu. Dan nasibnya seakan di uji disaat dia ternyata satu kelas dengan rivalnya itu. Dari kelas satu sampai sekarang. Takdir begitu ‘indah’ bukan?
***
‘GRAK’
Seisi
kelas melihat kearah kedua remaja yang basah kuyup yang berada di
pintu. Bunyi bersin bersahutan dari keduanya. Malangnya bagi mereka
ternyata mereka terlambat dan kedinginan tentunya. Murid-murid tampak
heran karena keterlambatan dari KEDUA murid TELADAN tersbut. Tak
seharusnya kan?
“Anoo... Sumimasen, Erza-sensei
*hatchu* kami terlambat *hatchu*” ujar Aki yang mewakili perkataan
Ella. Dirinya tahu tubuh Ella menggigil karena terlalu lama diguyur
hujan.
“Daijoubu. Tapi lain kali jangan terlambat
lagi ya? Dan sebaiknya kalian tidak usah ikut pelajaran hari ini.
Sensei lihat kalian sepertinya terkena flu. Kalian istirahat di UKS
saja.” Jawab Erza-sensei dengan anggun nan bijak. Guru ini
memang terkenal akan keanggunan dan kecantikannya. Selain itu kebaikan
hati dan kebijaksanaan dalam memutuskan pendapat juga menambah nilai plusnya.
“Eh? *hatchu* tapi sensei…”
“Atttatata…Tidak
pakai tapi-tapian. Saya tidak mau nanti ada siswa yang pura-pura sehat
selagi saya menerangkan pelajaran. Sama saja bohong dong?” potong Erza-sensei
pada perkataan Ella. Mungkin ya karena gelar murid teladan itu Ella
tidak ingin menyia-nyiakan waktunya hanya dengan berbaring di UKS,
apalagi dengan rivalnya. Aki pun sepertinya juga berpikiran sama.
“Arigatou gozaimasu, Erza-sensei. We’ll take our leave.” Kata Aki sambil membungkukkan kepalanya dan berjalan keluar. Sedangkan Ella tidak juga berjalan keluar.
“Ikou.” Ujar Aki seraya menautkan tangannya pada tangan Ella. Mau tak mau Ella berjalan kan? Daripada terseret.
“Oh ya, jangan lupa ganti baju kalian ya.” Ujar Erza-sensei lembut.
“Hai.”
Di
sepanjang perjalanan Ella hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya. Dia
sebal karena tidak bisa mengikuti pelajaran. Aki pun sebenarnya begitu,
tetapi dia tetap memasang muka stoicnya. Tak mungkin kan dia
uring-uringan dan menggulung di lantai? Tak etis. Tak ada satupun dari
mereka yang sadar kalau tangan mereka masih saling bertautan.
‘CKLEK’
“Hei! Kalian basah kuyup! Masuklah.” ujar Mira-sensei
ketika melihat dua murid yang berdiri di depan pintu. Dia merangkap
menjadi guru kesehatan dan juga guru biologi di sekolah ini. Dirinya
segera mengambil dua handuk kering dan memberikannya pada kedua remaja
tersebut.
“Arigatou sensei.” Ucap Aki dan Ella bersamaan.
“Um,
sebentar. Sensei ambilkan baju untuk kalian berdua. Daripada kalian
berdua memakai baju yang basah. Bisa tambah parah nanti.” Ujar Mira-sensei sambil berjalan ke ruang sebelah.
“Un, arigatou sensei.”
Kata Ella yang kini mewakili ucapan dari Aki. Keduanya kini dalam diam.
Tak seorang pun berniat memulai pembicaraan. Hanya suara tetes-tetes
air hujan dan deru angin yang terdengar di ruangan tersebut.
“Anoo…”
“Ini anak-anak, baju kalian. Meskipun hanya baju olahraga. Tapi ini kering.” Ucap Mira-sensei memotong perkataan Ella. Mira-sensei
memberikan kedua pakaian tersebut kepada mereka dan dengan segera Ella
menyambar pakaian tersebut kemudian berjalan ke kamar mandi UKS. Rona
merah sedikit terlihat di kedua pipinya. Tipikal Tsundere kah dia? Saa na…
“Ne, anak-anak. Ini obat kalian, dan ini juga ada coklat panas untuk kalian. Kalian kedinginan kan?” ujar Mira-sensei kepada keduanya sambil sebuah senyuman hangat menyertai ucapannya.
“Arigatou, Mira-sensei.” Kata kedua remaja tersebut.
“Nah, sekarang katakan. Kenapa kalian bisa basah kuyup begini?” tanya Mira-sensei dengan kedua tangan ditangkupkan pada pipinya.
“Emm, itu karena…”
“Yabai! Ternyata sensei ada jam mengajar! Sensei lupa!” pekik Mira-sensei
kebingungan setelah melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
Dengan cepat ia membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam
tas.
“Etto sensei, dari tadi ketika akan bicara selalu saja dipotong!” rajuk Ella
“Gomene, sensei benar-benar harus pergi sekarang. Besok kita lanjut lagi. Jaa~!” ucap Mira-sensei
seraya berlari meninggalkan ruangan. Mereka kembali dilanda oleh
kesunyian. Suasana serasa berubah menjadi agak canggung, yah karena
hanya ada mereka berdua di ruangan ini. Dan ingat kan mereka itu
sepasang RIVAL?
“Tadi kau ingin bicara apa?”
tanya Aki memecah keheningan diantara mereka berdua. Sebenarnya dia
merasa canggung memulai pembicaraan. Tapi ya, dia tak ingin keheningan
itu berlanjut dan juga memuaskan rasa penasarannya.
“Bicara apa memang?” balas Ella menanya sambil menyeruput coklat panasnya. Hangat dan manis.
“Tadi, sewaktu Mira-sensei
belum datang. Ish, dasar kau ini pelupa! Ternyata memang aku lebih
unggul darimu!” ucap Aki sambil menjitak kepala Ella. Dia kemudian
tertawa melihat Ella terbatuk-batuk karena tersedak coklat panas. Topeng
dinginnya seakan runtuh jika sedang berhadapan dengan Ella. Dasar
remaja…
“Kau mau membunuhku hah?!” Kata Ella marah karena
perlakuan Aki terhadapnya. Ditepuk-tepuknya tengkuk lehernya dengan
keras karena itu. Dia melihat Aki tertawa atas penderitaannya.
‘Such an evil!’ Pikirnya
“Tadi sebenarnya aku ingin tanya kenapa kau membantuku.”
“Membantu?”
“Iya, tadi saat aku mengejar bis. Kenapa kau membantuku? Tumben?”
“Oh
itu tadi, Ya karena nanti aku tidak ada motivasi untuk menjadi murid
teladan lagi. Kan nanti kalau kau enggak masuk aku yang teladan sendiri
kan?”
“How arrogant. Jadi tadi kau bicara dengan sopir bisnya untuk berhenti gitu?”
“Ya lah.”
“Seperti
yang kuduga. Aku kan cerdas.” Ujar Ella sambil menunjuk pada dirinya
sendiri. Hari itu mereka tak sadar kalau mereka telah berbicara satu
dengan yang lain panjang lebar, hanya gelak tawa dan suara mengaduh.
Coklat mereka sudah dingin, tapi terasa hangat.
***
Hari
berganti hari Aki dan Ella semakin bersemangat dalam menjatuhkan rival
masing-masing, bukan secara fisik. Tapi secara akademik. Mereka selalu
rajin dalam mengerjakan tugas, selalu dapat nilai tertinggi dalam setiap
ulangan, aktif bertanya di dalam kelas dan yang lainnya. Keduanya seri
mendapatkan nilai yang sempurna, tapi mereka tak mau mengalah satu sama
lain. Hingga pada suatu hari…
“Ne Aki no baka, aku lelah mengadu kecerdasanku denganmu. Otakku rasanya mau meledak.” Ujar Ella sambil mengacak-acak rambutnya.
“Heh, same here.”
Ujar Aki lirih tapi Ella masih bisa mendengar itu. Keduanya kini berada
dalam kelas yang tepatnya di tempat duduk pojok belakang. Mungkin bagi
murid lain mereka dianggap sedang belajar bersama, ya karena mereka
murid teladan. Tapi jika mereka mendekat, mereka akan mengetahui apa
yang sebenarnya mereka bicarakan. Sseuatu yang mengejutkan mungkin.
“EHHHH?!”
“Oh diamlah, Baka! Kau membuatku malu.”
“Kau yang tak tau malu, Baka Ella! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?!”
“Yah mau bagaimana lagi, aku lelah bertanding denganmu terus sih.”
“Ya tapi kan!”
“Heh, kau terima tawaranku nggak? Kau juga lelah kan?”
“Hmm, ya deh. Jadi sekarang kita---”
“Mochiron desu!”
Yang
mereka bicarakan sebenarnya bukan tentang materi pelajaran, tak ada
kaitannya malah. Tetapi tentang suatu hal atau ide dari Ella yang
membuat terkejut Aki. Ella berniat memiliki ‘penerus’. Yah alasan
pertama karena mengakhiri ‘peperangan’ diantara mereka berdua dan alasan
yang kedua karena Ella berpikir gen ayah maupun ibu cerdas, anaknya pun
akan lebih cerdas. Hal tersebut membuat Aki tersedak ludahnya sendiri,
terkejut pastinya. Tetapi karena mereka itu ‘freak’ akan kecerdasan, tak perlu berpikir panjang untuk Aki menyetujuinya.
Hari
demi hari mereka mendiskusikan masalah tersebut. Mereka haruslah
berusaha untuk mencapai nilai dan prestasi terbaik demi ‘penerus’ mereka
nanti. Hingga mereka mencapai semester 3 di sebuah universitas ternama
(mereka satu universitas walaupun beda fakultas, biar gampang katanya).
Mereka juga sudah mempersiapkan masa depan ‘penerus’ mereka, emm… lebih
tepatnya merencanakan.
“Sudah belum nih?” tanya Aki kepada
Ella yang sibuk memotretnya. Ya, mereka tak lupa untuk mengabadikan
ribuan foto-foto mereka guna ‘penerus’ mereka nanti. Keren kan nanti
kalau ia tempelkan di album lalu ia namai keluarga cerdas nan teladan?
Pikir Ella seperti itu.
“Nah, sekarang kita berdua berpose
seperti ini.” Ujar Ella, atau tepatnya perintah Ella kepada Aki. Hampir
setiap hari mereka bertemu pandang. Namun tak ada satupun dari mereka
yang merasakan sesuatu yang tumbuh dalam relung hati mereka. Inikah nafsu
semata?
***
“Ish, kenapa ia tidak masuk
sih? Apa karena kehujanan kemarin ia jadi sakit dan meninggalkan materi
kuliah yang berharga? Memang ia rela hanya berbaring di kasur tanpa
melakukan suatu hal? Aish, ternyata memang lebih unggul aku daripada
dia!” gerutu Aki sepanjang perjalanannya menuju ruang kuliahnya. Hari
ini memang Ella memang tidak masuk sekolah karena sakit, sebenarnya Ella
tidak menginginkan ini. Tapi apa mau dikata, kalaupun ia memaksakan
diri ia takkan mampu untuk mengikuti pelajaran. Mengangkat kepala saja
kesusahan.
“Argh! Kenapa aku tidak bisa berkonsentrasi
sih?!” ujar Aki ketika ia sedang mengerjakan tugas yang dosen berikan
kepadanya. Sudah setengah jam berlalu, dan ia belum selesai
mengerjakannya. Padahal baginya dan Ella 10 menit cukup untuk
mengerjakannya. Ella. Tersangkanya. Pemecah konsentrasinya. Entah kenapa
kepalanya penuh akan Ella. Apa karena dia terbiasa bersama dengan Ella
sehingga satu hari tak bersamanya dia merasa ada yang kosong? Atau kah
karena hal lain?
***
“Pikir Aki, pikir. Kau
itu cerdas. Berpikir.” Gumamya seraya memijit pelipisnya. Raut mukanya
bertambah garang karena memikirkan ‘hal’ itu.
/Apa ini
sebenarnya?/ pikirnya sambil meletakkan telapak tangannya di dada
kirinya, merasakan detak jantungnya yang semakin cepat dan nafasnya
semakin tercekat. Dia tak tahu apa perasaan itu sebenarnya. Berbagai
rumus dan penelitian telah ia coba beberapa hari setelah kejadian ia
kehilangan daya konsentrasinya. Tapi nihil, apakah itu…?
“Ish!
Aku mikir apa sih!” ucap Aki lirih. Ia melangkahkan kakinya keluar dari
perpustakaan menuju ke taman kampus. Lambaian angin dan gemerisik daun
seakan memberitahu remaja yang sedang duduk di bawah rimbunan sakura ini
tentang keguandahan perasaannya.
Ia sudah mengerti.
***
“Ne
Aki, bagaimana kalau kita menulis surat untuk ‘penerus’ kita nanti?”
ucap Ella yang sudah seminggu ini bersama Aki kembali. Ia menemukan ide
selain berfoto untuk ‘penerus’ mereka nanti. Sebuah surat. Yang
berisikan tentang kejadian-kejadian yang mereka alami bersama, baik yang
menarik, menyedihkan, menyeramkan, dan sebagainya. Juga pesan-pesan
yang mereka sampaikan kepada ‘penerus’ mereka nanti. Lebih tepatnya
bukan surat sih, catatan-catatan kecil.
“Anoo sebentar, aku ingin usul juga. Bolehkan?” Pinta Aki dengan topeng dinginnya.
“Tentu saja!” jawab Ella yang justru bersemangat.
“Bagaimana kalau kita membuat sebuah pondok kecil di sebuah taman yang jauh dari keramaian. Di tepi danau mungkin.”
“Wah! Itu yang aku impikan!”
“Umm…kita
hias bagian dalam pondok itu dengan foto-foto yang kita ambil itu, dan
surat-suratnya juga.” Kali ini topeng dingin Aki sedikit retak karena
semburat merah menjalar di pipinya. Melihat perubahan warna muka Aki
membuat Ella mau tak mau juga memerah. Suasana tiba-tiba berubah menjadi
canggung, Déjà vu.
“Un, aku setuju.” Ucap Ella
lirih. Dia merasa seperti ada kumpulan kupu-kupu yang berterbangan di
perutnya dan dadanya terasa sesak. Ia tak tahu kenapa itu bisa terjadi
kepadanya. Bahkan tak tahu apa itu sebenarnya.
“Ne Ella, sebenarnya aku ingin bertanya satu hal lagi kepadamu.” Ucap Aki yang terlihat calm.
Dia sudah mengatur feromon merahnya supaya tidak berpendar lagi di
pipinya. Ini pertama kalinya dia terlihat kesulitan berhadapan dengan
seseorang.
“Eh? Tanya apa? Mau usul lagi ya?” tanya Ella yang juga bersikap sama seperti Aki, tapi dengan wajah yang innocent. Seolah tak tau apa-apa.
“Apakah kau selalu ingin bertemu seseorang walaupun dia baru saja menghilang dari pandanganmu?”
“Ini kuis ya? Aku harus jawab nih?”
“Jawab saja.”
“Hmm, kadang iya sih.
“Pernahkah kau memimpikan seseorang walaupun tanpa menginginkannya?”
“Itu sih sering.”
“Ketika
orang yang kau impikan itu bermain-main di ruang pikiranmu, apakah kau
merasakan sebuah sensasi aneh di perutmu? Layaknya jutaan kupu-kupu
berterbangan disitu?”
“Kau ini kenapa sih?”
“Jawab saja.”
“Hm, kalau dipikir-pikir iya juga sih. Masih nih?”
“Satu
lagi. Ketika orang itu di dekatmu, apakah kau pikir kau akan mati saat
itu juga karena jantungmu yang berdebar sangat cepat seakan melompat
dari dadamu?”
“Un!”
“Itulah yang kurasakan padamu saat ini.”
“Hmm…EEH?!”
“Reaksimu berlebihan Ella. Intinya aku menyukaimu.”
“...” Ella tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia tak tahu apakah ia harus terkejut, malu, sedih, marah atau apalah itu.
“Kenapa
kau bisa menyukaiku?” tanya Ella tak kalah tegas. Padahal setengah mati
ia mencoba mengatur detak jantungnya yang melebihi ambang batasnya.
“Sederhana
sih, karena kau terpenting bagiku. Ku pikir aku tak kan menyukaimu
karena kita ‘sama’. Tapi apa mau dikata. Aku jatuh cinta dengan rivalku sendiri.” Ucap Aki dengan ekspresi yang melembut. Terlihat dari sorot matanya yang menembus dark brown Ella
“Tapi jika aku menolakmu bagaimana?” ujar Ella yang membuat Aki untuk melebarkan matanya. Di luar dugaannya.
“Itu
tak penting. Aku tak peduli tentang perasaanmu. Aku tetap punya hak
untuk menyukaimu. Lagipula kita berniat untuk memiliki ‘penerus’ bukan?”
ucap Aki disertai senyuman licik. Dia sungguh percaya diri Ella
mempunyai perasaan yang sama dengannya.
“Ya, Mr. Arrogant. Aku mengakui kalau aku juga menyukaimu, walau sedikit sih. Puas?” kata Ella dengan memasang tampang sebal.
‘CUP’
Sentuhan bibir yang lembut terasa di pipi kanan Ella yang dipastikan sudah berubah bagaikan apel kemerahan. Ella speechless. Ia tak tahu apa yang dipikirkannya saat ini. Tepukan lembut di kepalanya menyadarkan ia dari lamunannya.
“Ne ikuzo wifey~” ucap Aki yang baru kali ini menunjukkan ekspresi yang beda dari biasanya.
“Aki no Baka!
Beraninya kau menggodaku!” teriak Aki sambil mengejar langkah Aki yang
kian menjauh dari pandangannya. Semburat-semburat merah di cakrawala
seakan mewakili perasaan mereka.
/Hari yang menyenangkan/
***
/Apakah ia berniat menarik perkataannya?/
/Kenapa dia tak muncul juga ke hadapanku?/
/Dia tak tahu apa aku menunggunya?/
/Bagaimana dengan pondok yang kelak untuk ‘penerus’?/
/Apakah ia hanya mempermainkan aku saja?/
Itulah
yang sedang Ella pikirkan sekarang, sudah 2 minggu Aki menghilang dari
pandangannya. Baru 3 bulan ia rajut kenangan manis bersama Aki tetapi
tiba-tiba sosok tersebut hilang bak ditelan bumi. Ia sudah mencari
dimana keberadaan Aki namun selalu nihil yang didapatnya. Mau tak mau
berbagai pikirin negatif muncul di benaknya. Tapi ia tak ingin menyerah
begitu saja. Ia akan mencari Aki sampai otot-otot kakinya kelelahan dan
tak mau menapak bumi, sampai matanya tertutup dan tak bisa terbuka lagi.
Dan jika ia sudah menunjukkan batang hidungnya di hadapannya ia akan
memukul wajahnya karena sudah berani meninggalkannya. Tak lupa ia juga
akan menagih pondok impiannya.
Ia hanya perlu berjuang lebih keras lagi.
***
3
tahun bukan waktu yang singkat bukan? Ella mencari keberadaan Aki tak
kenal hari, bulan dan tahun. Rasa kehilangan sangat membekas di
benaknya. Hatinya menjerit pilu, kedua maniknya sudah tak bisa lagi
mengalirkan air mata. Isakan demi isakan terdengar bagai hembus angin
yang bergemuruh. Ia tak tahu harus bagaimana lagi.
“AAAAAAAAA!”
teriaknya kepada kesunyian. Angin bertiup semakin kencang menimbulkan
suara daun yang bertubrukan. Tetes-tetes hujan perlahan menapaki pijakan
bumi. Kian lama kian deras, seolah mewakili tangisannnya. Ia tak peduli
dingin menusuk tulangnya, dan badannya yang basah kuyup. Ia berharap
adanya sebuah keajaiban. Aki berdiri di hadapannya dan memayunginya,
seperti dulu. Ketika belum ada perasaan yang menggelayutinya.
/Rasanya dadaku sesak sekali./
/Picisan kecil di hatiku remuk satu per satu./
/Dimanakah kamu?/
/Seolah lari dari tanggung jawab./
/Apa kau tak tahu./
/Aku merindukanmu./
‘TAP’
Ella
merasa ….. karena keajaiban itu memang ada, walaupun dengan cara yang
berbeda. Dirinya kini dibawah payung oleh sosok tinggi. Bukan Aki. Sosok
yang bahkan ia tidak tahu siapa. Tapi entah kenapa dirinya merasa lega.
“Kau bisa sakit!” ujarnya pada Ella.
“Apa pedulimu?”
“Sederhana, saat bertemu pandang padamu 2 tahun lalu aku merasa kau terpenting bagiku.”
‘DEG’
/Orang ini.../
“Apa?”
“Sudah, ayo.”
Ella
percaya dibalik kelabunya awan. Dibalik tetes hujan yang mendera.
Dibalik angin yang berhembus meniup segala sesuatu. Ia yakin pasti ada
pelangi yang esok terbentang indahnya. Warna-warna yang membias di ufuk
langit.
Ia percaya itu.
You will always be inside my heart
There's always a place just for you, so
I hope that I have a place in your heart, too
Now and forever you are still the one
It's still a sad love song
Until I can sing a new one
There's always a place just for you, so
I hope that I have a place in your heart, too
Now and forever you are still the one
It's still a sad love song
Until I can sing a new one
©Utada Hikaru-First Love
-FLASHBACK OFF-
Kesunyian
melanda mereka berdua setelah Ella selesai bercerita. Hanya terdengar
suara angin musim gugur yang masih meniup dedaunan. Suasana yang Ella
sudah ia pikirkan akan terjadi seusai ia menceritakan hal tersebut.
“Gomen.”
Ucapnya seraya menundukkan kepalanya, masih dengan suara yang lirih. Ia
tahu Yuma terkejut dan bahkan menahan amarahnya. Tak seharusnya ia
menceritakan masa lalunya bersama Aki. Tak seharusnya ia masih memendam
perasaannya terhadap Aki dan tak seharusnya ia membohongi perasaannya
juga perasaan Yuma.
“Gomen, aku masih memendam
perasaanku terhadap Aki yang tak kuketahui dimana keberadaannya sampai
sekarang.” Ucapnya lagi kepada Yuma yang masih membisu, menerawang
mega-mega jingga.
“Daijoubu dayo, Ella-chan.”
ujar Yuma dengan lembut, namun masih bisa dilihat Ella sorot mata Yuma
penuh lara. Rasa bersalah muncul menghantui Ella. Ia takut Yuma akan
meninggalkannya seperti Aki. Ia takut kehilangan kedua kalinya. Ia
takut... sampai tak terasa kilauan bening menetes dari kedua maniknya.
Tetesan hingga isakan terlihat dari gerak tubuhnya. Hingga ia merasakan
sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang. Yuma memeluknya.
“I’ll be there for you.”
Bisikan yang mengalun indah bagai lullaby
terdengar di telinga kirinya. Ia membalikkan badannya dan membalas
pelukan Yuma. Ella menangis sekencang-kencangnya dalam pelukan Yuma. Ia
masih merasa bersalah kepada Yuma.
“Sssh, Yakusoku. Itsumademo.”
Kata-kata
yang bagaikan pelangi dalam badai yang menghantamnya. Ia merasa lega
Yuma menjadi pasangan hidupnya. Ia tak menyesal memilihnya. Perlahan
tangisannya mereda karena usapan lembut di punggungnya.
“Bolehkah aku tahu siapa Aki yang masih tak tahu dimana keberadaannya itu?” tanya Yuma di sela-sela pelukannya terhadap Ella.
“Mimegumi Aki.” Ucap Ella lirih.
“Eeh? Siapa?”
“Mimegumi Aki, Yuma-kun.”
Seketika
Yuma berjalan ke suatu tempat. Ke lemari, di sebuah kotak yang sudah
usang. Dia mengambil sebuah surat. Lalu menyerahkannya kepada Ella.
“Apa ini?” tanya Ella dengan raut kebingungan.
“Ini
adalah sebuah surat yang Aki titipkan kepadaku saat di Belanda, sebulan
sebelum ia tak lagi bernafas di bumi ini.” Dengan terburu-buru Ella
mebuuka surat itu dan membacanya. Air mata yang sudah reda kini
menggenang lagi di pelupuk matanya.
Ella kutemukan sebuah lokasi yang cocok untuk pondok kita.
Sepetak tanah dikelilingi bunga tulip berbagai warna.
Pemandangan saat sore hari akan membuatmu terbelalak kagum.
Kurasa usahaku yang membuatku menghilang dari pandangan matamu setimpal.
Kau pasti menyukai pondok kita.
Kakinya
goyah, tubuhnya seketika merosot. Ia merasa seperti langit runtuh di
atas kepalanya. Ia kini sudah tahu keberadaan Aki, tak lagi berpijak di
bumi. Ia terharu sekaligus sedih menetahui alasan sesungguhnya Aki
menghilang dari pandangannya.
Kemudian ia menatap kedua
mata Yuma yang juga menyiaratkan kesedihan. Ia menyadari bahwa
perasaannya terhadap Aki adalah sebuah kenangan yang manis untuknya.
Tetapi Ia juga menyadari bahwa sosok di depannya itu adalah masa yang ia
akan rajut selamanya.
“Gomene, Yuma-kun.”
“Daijoubu ne Ella-chan. Aku tahu bagaimana perasaanmu.”
“Ajari aku untuk lebih mencintaimu.”
“Un, akan aku buat kamu tenggelam dalam cintaku.”
Bersamaan
dengan terbenamnya sang bagaskara di ufuk barat, Ella menutup lembaran
masa lalunya tanpa diselimuti sebuah misteri. Ia memulai Bab Satu Kisah
Agung dimana setiap babnya lebih romantis dari bab sebelumnya yang
berlangsung sampai mata mereka tertutup dan tak terbuka lagi.
終(OWARI)
A/N: Sebenarnya saya sudah post ini di wattpad saya. Tapi ya karena seseorang bilang susah dibuka ya jadinya saya bikin blog deh -__- *melirik seseorang* Monggo dibaca karya amburadul saya .__.
Kamus:
Aki: Musim gugur
Doushita: Ada apa?
Iie: Tidak
(name)-chan: Panggilan untuk seseorang yang sudah akrab
(name)-kun: Panggilan yang bisanya untuk laki-laki
Yabai: Oh tidak/Oh my God/Gawat juga boleh
Chotto matte: Tunggu sebentar
Baka: Bodoh
Anoo/Etto: Anu (yah semacam basa-basi agak kikuk gimana gitu -__-)
Sumimasen: Maaf
Sensei: Guru
Daijoubu/Dijoubu dayo: Tidak apa-apa
Arigatou/arigatou gozaimasu: Terima kasih
Ikou/Ikuzo: Ayo
Hai: Iya
Tsundere: Yah yang galak-galak tapi suka(?) yang sok gak suka padahal suka gitu lah, googling sendiri deh -__-
Saa na: Entahlah (mungkin?)
Mochiron desu: Tentu saja
Gomen: Maaf
Yakusoku: Janji
Itsumademo: Selamanya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar