Selasa, 10 September 2013

Aki no Memories

Author:   Kamehoshi Yuukou a.k.a Denanda Aditya R

Pairing : Aki/Ella, Yuma/Ella

Genre : Full of romance, 3/4 hurt

Rating : PG-13
Douzo~ (comment are absolutely appreciated XD)
***
Hembus angin menyebar dedaunan yang mulai berubah warna. Satu persatu jingga maple berterbangan mengikuti arah angin. Semburat merah muda memperindah latar belakang maple tersebut, tak ingin kalah warna jingga langit ikut meramaikan. Diantara keindahan latar tersebut nampak sosok mungil berdiri di  balik tirai jendela putih yang terhembus oleh angin musim gugur itu.

“Aki.” Lirihnya diikuti oleh gemerisik daun yang saling bergesekan. Kilau bening jatuh dari manik dark brown sosok tersebut. Kenangan akan sosok lain terlintas dalam benaknya, yang masih melekat di ingatannya.

Doushita?” Ucap seorang pria yang berjalan mendekat kearah sosok yang berada di jendela yang tak lain adalah wanita yang dinikahinya 5 bulan yang lalu itu. Wanita itu segera menundukkan kepalanya, tak menghadap suaminya. Sebisa mungkin dia tahan agar airmatanya tak menetes.

Iie.” Lirihnya.

“Katakan, apa yang kamu pikirkan, Ella-chan.” Bisik  pria itu dalam bahu Kanzaki Ella. Ia merasa wanita dalam pelukannya itu bergetar, seakan menahan untuk tidak meneteskan airmata lagi. Dieratkan pelukannya menunggu untuk istrinya itu mengucapkan sesuatu dari mulutnya. Isakkan lirih terdengar di kedua telinga pria itu. Ia eratkan pelukan itu, berusaha untuk menahan beban yang ditumpukan olehnya. Nyaman dan lembut.

“Tidak menjawab?” tanyanya sekali lagi sambil memejamkan mata, menikmati scent yang menguar dari istrinya itu. Lalu ia merasa wanitanya membalikkan badan dan memandang kedua hazel miliknya. Kilauan itu jatuh dari kedua mata istrinya. Entah kenapa dia tak kaget, karena ia tahu sejak awal musim gugur beberapa hari yang lalu ia merasa istrinya itu agak berbeda dari biasanya. Tapi ia tak segera bertanya mengenai masalah itu, ia hanya menunggu waktu yang tepat. Seperti saat ini.

“Hm?” Gumam pria yang bernama Nakayama Yuma itu. Disekanya bulir yang menetes dikedua pipi Ella dengan ibu jarinya. Kemudian ia cubit pipi kanan istrinya itu sambil mengulas senyum di wajahnya.

“Iie, aku hanya mengingat masa lalu. Boleh aku jujur padamu, Yuma-kun?”

“Tentu saja, baka Ella! Hahaha. Aku kan suamimu.” Kata Yuma sambil mencolek ujung hidung belahan hatinya itu. Ella berjalan ke sisi tempat tidur dan mendudukkan dirinya disana. Sementara Yuma melipat tangan di dadanya sambil bersandar pada tembok dekat jendela.

“Yang sedang ku pikirkan adalah Aki.”

“Aki? Musim gugur?”

“Iie, seorang yang masih berada dalam bayanganku.”

“Hm...Oke, lanjutkan. Aku akan mendengarkanmu.”

-FLASHBACK-

Yabai! Hujan! Dan aku gak membawa payung!” ujar seorang gadis yang sedang berdiri sambil mengaduk-aduk tasnya di sebuah halte. Dirinya merasa kesal karena hujan yang turun di pagi yang awalnya cerah. Dia takut terlambat. Yah sebagai seorang murid yang sudah di cap teladan pantang untuknya melanggar tata tertib itu.

‘BWUSH’

Bis itu melaju dengan kencang disaat dia masih berkutat pada tasnya. Tanpa berpikir panjang dia berlari mengejar bis itu. Tak dipedulikan tubuhnya bash kuyup oleh derasnya hujan.

Chotto matte!” teriaknya pada bis itu. Namun bis tersebut tak juga berhenti. Dikerahkan seluruh tenaganya untuk mengejarnya lagi. Teriakannya kembali terdengar. Tapi malangnya...dia pun menyerah. Dia sudah kehabisan tenaganya. Kedua tangannya menumpu pada kedua lututnya. Dengan nafas yang terengah-engah dia berpikir masa bodoh lah dengan semua tata tertib, yang penting aku tetap masuk sekolah.

“Lebih baik terlambat atau tidak sama sekali kan?” gumamnya. Disaat akan berlari kembali dirasakannya tetesan air hujan tak berjatuhan di tubuhnya. Ia mendongak ke atas. Sebuah payung biru telah berada dalam genggaman seseorang yang dikenalnya. Meskipun kacamatanya kini terbasahi oleh tetes-tetes air. Ia bisa tahu dari postur tubuh sosok tersebut. Rivalnya. Mimegumi Aki.

Honey dan dark brown bertemu. Gadis itu masih terpaku pada rivalnya. Ia tak menyangka rivalnya itu bisa bersikap baik kepadanya. Seperti halnya Aki, Ia terdiam melihat gadis di depannya itu tak kunjung merespon kehadirannya. Ah dunia serasa milik berdua. Tapi kali ini bukan sepasang kekasih. Sepasang rival tepatnya.

“Kamu mau terlambat hah?” tanya Aki kepada gadis itu. Gadis itu tampak mengerjap-mengerjapkan kedua matanya. Di sudah kembali ke alam sadarnya rupanya.

“Eh, anoo... Ya enggak lah! Aku kan murid teladan!” ujar gadis itu sambil menyambar payung biru dari tangan Aki dan berlari menuju bis. Sedangkan Aki hanya bisa diam karena terkejut akan respon yang ditunjukkan. Tapi kemudian ia tersenyum, yah senyum yang cerah di kala hujan yang deras.

C’mon Aki no baka! Kelas dimulai 2 menit lagi!” teriak gadis itu dari pintu bis. Aki pun segera berlari menuju bis tersebut. Tak ingin gelar murid teladan yang ia rebutkan jatuh ke tangan gadis itu kembali.

 “Baka Ella! Jangan panggil aku Baka! Aku lebih unggul darimu!” ujarnya ketika sampai di muka pintu. Dia memang sudah menganggap Ella sebagai rivalnya sejak diterima di sekolah itu. Dan nasibnya seakan di uji disaat dia ternyata satu kelas dengan rivalnya itu. Dari kelas satu sampai sekarang. Takdir begitu ‘indah’ bukan?

***

‘GRAK’

Seisi kelas melihat kearah kedua remaja yang basah kuyup yang berada di pintu. Bunyi bersin bersahutan dari keduanya. Malangnya bagi mereka ternyata mereka terlambat dan kedinginan tentunya. Murid-murid tampak heran karena keterlambatan dari KEDUA murid TELADAN tersbut. Tak seharusnya kan?

Anoo... Sumimasen, Erza-sensei *hatchu* kami terlambat *hatchu*” ujar Aki yang mewakili perkataan Ella. Dirinya tahu tubuh Ella menggigil karena terlalu lama diguyur hujan.

Daijoubu. Tapi lain kali jangan terlambat lagi ya? Dan sebaiknya kalian tidak usah ikut pelajaran hari ini. Sensei lihat kalian sepertinya terkena flu. Kalian istirahat di UKS saja.” Jawab Erza-sensei dengan anggun nan bijak. Guru ini memang terkenal akan keanggunan dan kecantikannya. Selain itu kebaikan hati dan kebijaksanaan dalam memutuskan pendapat juga menambah nilai plusnya.

“Eh? *hatchu* tapi sensei…”

“Atttatata…Tidak pakai tapi-tapian. Saya tidak mau nanti ada siswa yang pura-pura sehat selagi saya menerangkan pelajaran. Sama saja bohong dong?” potong Erza-sensei pada perkataan Ella. Mungkin ya karena gelar murid teladan itu Ella tidak ingin menyia-nyiakan waktunya hanya dengan berbaring di UKS, apalagi dengan rivalnya. Aki pun sepertinya juga berpikiran sama.

Arigatou gozaimasu, Erza-sensei. We’ll take our leave.” Kata Aki sambil membungkukkan kepalanya dan berjalan keluar. Sedangkan Ella tidak juga berjalan keluar.

Ikou.” Ujar Aki seraya menautkan tangannya pada tangan Ella. Mau tak mau Ella berjalan kan? Daripada terseret.

“Oh ya, jangan lupa ganti baju kalian ya.” Ujar Erza-sensei lembut.

“Hai.”

Di sepanjang perjalanan Ella hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya. Dia sebal karena tidak bisa mengikuti pelajaran. Aki pun sebenarnya begitu, tetapi dia tetap memasang muka stoicnya. Tak mungkin kan dia uring-uringan dan menggulung di lantai? Tak etis. Tak ada satupun dari mereka yang sadar kalau tangan mereka masih saling bertautan.

‘CKLEK’

“Hei! Kalian basah kuyup! Masuklah.” ujar Mira-sensei ketika melihat dua murid yang berdiri di depan pintu. Dia merangkap menjadi guru kesehatan dan juga guru biologi di sekolah ini. Dirinya segera mengambil dua handuk kering dan memberikannya pada kedua remaja tersebut.

“Arigatou sensei.” Ucap Aki dan Ella bersamaan.

“Um, sebentar. Sensei ambilkan baju untuk kalian berdua. Daripada kalian berdua memakai baju yang basah. Bisa tambah parah nanti.” Ujar Mira-sensei sambil berjalan ke ruang sebelah.

“Un, arigatou sensei.” Kata Ella yang kini mewakili ucapan dari Aki. Keduanya kini dalam diam. Tak seorang pun berniat memulai pembicaraan. Hanya suara tetes-tetes air hujan dan deru angin yang terdengar di ruangan tersebut.

“Anoo…”

“Ini anak-anak, baju kalian. Meskipun hanya baju olahraga. Tapi ini kering.” Ucap Mira-sensei memotong perkataan Ella. Mira-sensei memberikan kedua pakaian tersebut kepada mereka dan dengan segera Ella menyambar pakaian tersebut kemudian berjalan ke kamar mandi UKS. Rona merah sedikit terlihat di kedua pipinya. Tipikal Tsundere kah dia? Saa na

“Ne, anak-anak. Ini obat kalian, dan ini juga ada coklat panas untuk kalian. Kalian kedinginan kan?” ujar Mira-sensei kepada keduanya sambil sebuah senyuman hangat menyertai ucapannya.

Arigatou, Mira-sensei.” Kata kedua remaja tersebut.

“Nah, sekarang katakan. Kenapa kalian bisa basah kuyup begini?” tanya Mira-sensei dengan kedua tangan ditangkupkan pada pipinya.

“Emm, itu karena…”

Yabai! Ternyata sensei ada jam  mengajar! Sensei lupa!” pekik Mira-sensei kebingungan setelah melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Dengan cepat ia membereskan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.

Etto sensei, dari tadi ketika akan bicara selalu saja dipotong!” rajuk Ella

Gomene, sensei benar-benar harus pergi sekarang. Besok kita lanjut lagi. Jaa~!” ucap Mira-sensei seraya berlari meninggalkan ruangan. Mereka kembali dilanda oleh kesunyian. Suasana serasa berubah menjadi agak canggung, yah karena hanya ada mereka berdua di ruangan ini. Dan ingat kan mereka itu sepasang RIVAL?

“Tadi kau ingin bicara apa?” tanya Aki memecah keheningan diantara mereka berdua. Sebenarnya dia merasa canggung memulai pembicaraan. Tapi ya, dia tak ingin keheningan itu berlanjut dan juga memuaskan rasa penasarannya.

“Bicara apa memang?” balas Ella menanya sambil menyeruput coklat panasnya. Hangat dan manis.

“Tadi, sewaktu Mira-sensei belum datang. Ish, dasar kau ini pelupa! Ternyata memang aku lebih unggul darimu!” ucap Aki sambil menjitak kepala Ella. Dia kemudian tertawa melihat Ella terbatuk-batuk karena tersedak coklat panas. Topeng dinginnya seakan runtuh jika sedang berhadapan dengan Ella. Dasar remaja…

“Kau mau membunuhku hah?!” Kata Ella marah karena perlakuan Aki terhadapnya. Ditepuk-tepuknya tengkuk lehernya dengan keras karena itu. Dia melihat Aki tertawa atas penderitaannya.

‘Such an evil!’ Pikirnya

“Tadi sebenarnya aku ingin tanya kenapa kau membantuku.”

“Membantu?”

“Iya, tadi saat aku mengejar bis. Kenapa kau membantuku? Tumben?”

“Oh itu tadi, Ya karena nanti aku tidak ada motivasi untuk menjadi murid teladan lagi. Kan nanti kalau kau enggak masuk aku yang teladan sendiri kan?”

How arrogant. Jadi tadi kau bicara dengan sopir bisnya untuk berhenti gitu?”

“Ya lah.”

“Seperti yang kuduga. Aku kan cerdas.” Ujar Ella sambil menunjuk pada dirinya sendiri. Hari itu mereka tak sadar kalau mereka telah berbicara satu dengan yang lain panjang lebar, hanya gelak tawa dan suara mengaduh. Coklat mereka sudah dingin, tapi terasa hangat.

***

Hari berganti hari Aki dan Ella semakin bersemangat dalam menjatuhkan rival masing-masing, bukan secara fisik. Tapi secara akademik. Mereka selalu rajin dalam mengerjakan tugas, selalu dapat nilai tertinggi dalam setiap ulangan, aktif bertanya di dalam kelas dan yang lainnya. Keduanya seri mendapatkan nilai yang sempurna, tapi mereka tak mau mengalah satu sama lain. Hingga pada suatu hari…

Ne Aki no baka, aku lelah mengadu kecerdasanku denganmu. Otakku rasanya mau meledak.” Ujar Ella sambil mengacak-acak rambutnya.

“Heh, same here.” Ujar Aki lirih tapi Ella masih bisa mendengar itu. Keduanya kini berada dalam kelas yang tepatnya di tempat duduk pojok belakang. Mungkin bagi murid lain mereka dianggap sedang belajar bersama, ya karena mereka murid teladan. Tapi jika mereka mendekat, mereka akan mengetahui apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Sseuatu yang mengejutkan mungkin.

“EHHHH?!”

“Oh diamlah, Baka! Kau membuatku malu.”

“Kau yang tak tau malu, Baka Ella! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?!”

“Yah mau bagaimana lagi, aku lelah bertanding denganmu terus sih.”

“Ya tapi kan!”

“Heh, kau terima tawaranku nggak? Kau juga lelah kan?”

“Hmm, ya deh. Jadi sekarang kita---”

“Mochiron desu!”

Yang mereka bicarakan sebenarnya bukan tentang materi pelajaran, tak ada kaitannya malah. Tetapi tentang suatu hal atau ide dari Ella yang membuat terkejut Aki. Ella berniat memiliki ‘penerus’. Yah alasan pertama karena mengakhiri ‘peperangan’ diantara mereka berdua dan alasan yang kedua karena Ella berpikir gen ayah maupun ibu cerdas, anaknya pun akan lebih cerdas. Hal tersebut membuat Aki tersedak ludahnya sendiri, terkejut pastinya. Tetapi karena mereka itu ‘freak’ akan kecerdasan, tak perlu berpikir panjang untuk Aki menyetujuinya.

Hari demi hari mereka mendiskusikan masalah tersebut. Mereka haruslah berusaha untuk mencapai nilai dan prestasi terbaik demi ‘penerus’ mereka nanti. Hingga mereka mencapai semester 3 di sebuah universitas ternama (mereka satu universitas walaupun beda fakultas, biar gampang katanya). Mereka juga sudah mempersiapkan masa depan ‘penerus’ mereka, emm… lebih tepatnya merencanakan.

“Sudah belum nih?” tanya Aki kepada Ella yang sibuk memotretnya. Ya, mereka tak lupa untuk mengabadikan ribuan foto-foto mereka guna ‘penerus’ mereka nanti.  Keren kan nanti kalau ia tempelkan di album lalu ia namai keluarga cerdas nan teladan? Pikir Ella seperti itu.

“Nah, sekarang kita berdua berpose seperti ini.” Ujar Ella, atau tepatnya perintah Ella kepada Aki. Hampir setiap hari mereka bertemu pandang. Namun tak ada satupun dari mereka yang merasakan sesuatu yang tumbuh dalam relung hati mereka. Inikah nafsu semata?

***

“Ish, kenapa ia tidak masuk sih? Apa karena kehujanan kemarin ia jadi sakit dan meninggalkan materi kuliah yang berharga? Memang ia rela hanya berbaring di kasur tanpa melakukan suatu hal? Aish, ternyata memang lebih unggul aku daripada dia!” gerutu Aki sepanjang perjalanannya menuju ruang kuliahnya. Hari ini memang Ella memang tidak masuk sekolah karena sakit, sebenarnya Ella tidak menginginkan ini. Tapi apa mau dikata, kalaupun ia memaksakan diri ia takkan mampu untuk mengikuti pelajaran. Mengangkat kepala saja kesusahan.

“Argh! Kenapa aku tidak bisa berkonsentrasi sih?!” ujar Aki ketika ia sedang mengerjakan tugas yang dosen berikan kepadanya. Sudah setengah jam berlalu, dan ia belum selesai mengerjakannya. Padahal baginya dan Ella 10 menit cukup untuk mengerjakannya. Ella. Tersangkanya. Pemecah konsentrasinya. Entah kenapa kepalanya penuh akan Ella. Apa karena dia terbiasa bersama dengan Ella sehingga satu hari tak bersamanya dia merasa ada yang kosong? Atau kah karena hal lain?

***

“Pikir Aki, pikir. Kau itu cerdas. Berpikir.” Gumamya seraya memijit pelipisnya. Raut mukanya bertambah garang karena memikirkan ‘hal’ itu.

/Apa ini sebenarnya?/ pikirnya sambil meletakkan telapak tangannya di dada kirinya, merasakan detak jantungnya yang semakin cepat dan nafasnya semakin tercekat. Dia tak tahu apa perasaan itu sebenarnya. Berbagai rumus dan penelitian telah ia coba beberapa hari setelah kejadian ia kehilangan daya konsentrasinya. Tapi nihil, apakah itu…?

“Ish! Aku mikir apa sih!” ucap Aki lirih. Ia melangkahkan kakinya keluar dari perpustakaan menuju ke taman kampus. Lambaian angin dan gemerisik daun seakan memberitahu remaja yang sedang duduk di bawah rimbunan sakura ini tentang keguandahan perasaannya.

Ia sudah mengerti.

***

Ne Aki, bagaimana kalau kita menulis surat untuk ‘penerus’ kita nanti?” ucap Ella yang sudah seminggu ini bersama Aki kembali. Ia menemukan ide selain berfoto untuk ‘penerus’ mereka nanti. Sebuah surat. Yang berisikan tentang kejadian-kejadian yang mereka alami bersama, baik yang menarik, menyedihkan, menyeramkan, dan sebagainya. Juga pesan-pesan yang mereka sampaikan kepada ‘penerus’ mereka nanti. Lebih tepatnya bukan surat sih, catatan-catatan kecil.

“Anoo sebentar, aku ingin usul juga. Bolehkan?” Pinta Aki dengan topeng dinginnya.

“Tentu saja!” jawab Ella yang justru bersemangat.

“Bagaimana kalau kita membuat sebuah pondok kecil di sebuah taman yang jauh dari keramaian. Di tepi danau mungkin.”

“Wah! Itu yang aku impikan!”

“Umm…kita hias bagian dalam pondok itu dengan foto-foto yang kita ambil itu, dan surat-suratnya juga.” Kali ini topeng dingin Aki sedikit retak karena semburat merah menjalar di pipinya. Melihat perubahan warna muka Aki membuat Ella mau tak mau juga memerah. Suasana tiba-tiba berubah menjadi canggung, Déjà vu.

“Un, aku setuju.” Ucap Ella lirih. Dia merasa seperti ada kumpulan kupu-kupu yang berterbangan di perutnya dan dadanya terasa sesak. Ia tak tahu kenapa itu bisa terjadi kepadanya. Bahkan tak tahu apa itu sebenarnya.

Ne Ella, sebenarnya aku ingin bertanya satu hal lagi kepadamu.” Ucap Aki yang terlihat calm. Dia sudah mengatur feromon merahnya supaya tidak berpendar lagi di pipinya. Ini pertama kalinya dia terlihat kesulitan berhadapan dengan seseorang.

“Eh? Tanya apa? Mau usul lagi ya?” tanya Ella yang juga bersikap sama seperti Aki, tapi dengan wajah yang innocent. Seolah tak tau apa-apa.

“Apakah kau selalu ingin bertemu seseorang walaupun dia baru saja menghilang dari pandanganmu?”

“Ini kuis ya? Aku harus jawab nih?”

“Jawab saja.”

“Hmm, kadang iya sih.

“Pernahkah kau memimpikan seseorang walaupun tanpa menginginkannya?”

“Itu sih sering.”

“Ketika orang yang kau impikan itu bermain-main di ruang pikiranmu, apakah kau merasakan sebuah sensasi aneh di perutmu? Layaknya jutaan kupu-kupu berterbangan disitu?”

“Kau ini kenapa sih?”

“Jawab saja.”

“Hm, kalau dipikir-pikir iya juga sih. Masih nih?”

“Satu lagi. Ketika orang itu di dekatmu, apakah kau pikir kau akan mati saat itu juga karena jantungmu yang berdebar sangat cepat seakan melompat dari dadamu?”

“Un!”

“Itulah yang kurasakan padamu saat ini.”

“Hmm…EEH?!”

“Reaksimu berlebihan Ella. Intinya aku menyukaimu.”

“...” Ella tak sanggup berkata apa-apa lagi. Ia tak tahu apakah ia harus terkejut, malu, sedih, marah atau apalah itu.

“Kenapa kau bisa menyukaiku?” tanya Ella tak kalah tegas. Padahal setengah mati ia mencoba mengatur detak jantungnya yang melebihi ambang batasnya.

“Sederhana sih, karena kau terpenting bagiku. Ku pikir aku tak kan menyukaimu karena kita ‘sama’. Tapi apa mau dikata. Aku jatuh cinta dengan rivalku sendiri.” Ucap Aki dengan ekspresi yang melembut. Terlihat dari sorot matanya yang menembus dark brown Ella

“Tapi jika aku menolakmu bagaimana?” ujar Ella yang membuat Aki  untuk melebarkan matanya. Di luar dugaannya.

“Itu tak penting. Aku tak peduli tentang perasaanmu. Aku tetap punya hak untuk menyukaimu. Lagipula kita berniat untuk memiliki ‘penerus’ bukan?” ucap Aki disertai senyuman licik. Dia sungguh percaya diri Ella mempunyai perasaan yang sama dengannya.

“Ya, Mr. Arrogant. Aku mengakui kalau aku juga menyukaimu, walau sedikit sih. Puas?” kata Ella dengan memasang tampang sebal.

‘CUP’

Sentuhan bibir yang lembut terasa di pipi kanan Ella yang dipastikan sudah berubah bagaikan apel kemerahan. Ella speechless. Ia tak tahu apa yang dipikirkannya saat ini. Tepukan lembut di kepalanya menyadarkan ia dari lamunannya.

“Ne ikuzo wifey~” ucap Aki yang baru kali ini menunjukkan ekspresi yang beda dari biasanya.

Aki no Baka! Beraninya kau menggodaku!” teriak Aki sambil mengejar langkah Aki yang kian menjauh dari pandangannya. Semburat-semburat merah di cakrawala seakan mewakili perasaan mereka.

/Hari yang menyenangkan/

***

/Apakah ia berniat menarik perkataannya?/

/Kenapa dia tak muncul juga ke hadapanku?/

/Dia tak tahu apa aku menunggunya?/

/Bagaimana dengan pondok yang kelak untuk ‘penerus’?/

/Apakah ia hanya mempermainkan aku saja?/

Itulah yang sedang Ella pikirkan sekarang, sudah 2 minggu Aki menghilang dari pandangannya. Baru 3 bulan ia rajut kenangan manis bersama Aki tetapi tiba-tiba sosok tersebut hilang bak ditelan bumi. Ia sudah mencari dimana keberadaan Aki namun selalu nihil yang didapatnya. Mau tak mau berbagai pikirin negatif muncul di benaknya. Tapi ia tak ingin menyerah begitu saja. Ia akan mencari Aki sampai otot-otot kakinya kelelahan dan tak mau menapak bumi, sampai matanya tertutup dan tak bisa terbuka lagi. Dan jika ia sudah menunjukkan batang hidungnya di hadapannya ia akan memukul wajahnya karena sudah berani meninggalkannya. Tak lupa ia juga akan menagih pondok impiannya.

Ia hanya perlu berjuang lebih keras lagi.

***



3 tahun bukan waktu yang singkat bukan? Ella mencari keberadaan Aki tak kenal hari, bulan dan tahun. Rasa kehilangan sangat membekas di benaknya. Hatinya menjerit pilu, kedua maniknya sudah tak bisa lagi mengalirkan air mata. Isakan demi isakan terdengar bagai hembus angin yang bergemuruh. Ia tak tahu harus bagaimana lagi.

“AAAAAAAAA!” teriaknya kepada kesunyian. Angin bertiup semakin kencang menimbulkan suara daun yang bertubrukan. Tetes-tetes hujan perlahan menapaki pijakan bumi. Kian lama kian deras, seolah mewakili tangisannnya. Ia tak peduli dingin menusuk tulangnya, dan badannya yang basah kuyup. Ia berharap adanya sebuah keajaiban. Aki berdiri di hadapannya dan memayunginya, seperti dulu. Ketika belum ada perasaan yang menggelayutinya.

/Rasanya dadaku sesak sekali./

/Picisan kecil di hatiku remuk satu per satu./

/Dimanakah kamu?/

/Seolah lari dari tanggung jawab./

/Apa kau tak tahu./

/Aku merindukanmu./

‘TAP’

Ella merasa ….. karena keajaiban itu memang ada, walaupun dengan cara yang berbeda. Dirinya kini dibawah payung oleh sosok tinggi. Bukan Aki. Sosok yang bahkan ia tidak tahu siapa. Tapi entah kenapa dirinya merasa lega.

“Kau bisa sakit!” ujarnya pada Ella.

“Apa pedulimu?”

“Sederhana, saat bertemu pandang padamu 2 tahun lalu aku merasa kau terpenting bagiku.”

‘DEG’

/Orang ini.../

“Apa?”

“Sudah, ayo.”

Ella percaya dibalik kelabunya awan. Dibalik tetes hujan yang mendera. Dibalik angin yang berhembus meniup segala sesuatu. Ia yakin pasti ada pelangi yang esok terbentang indahnya. Warna-warna yang membias di ufuk langit.

Ia percaya itu.





You will always be inside my heart
There's always a place just for you, so
I hope that I have a place in your heart, too
Now and forever you are still the one
It's still a sad love song
Until I can sing a new one

©Utada Hikaru-First Love

-FLASHBACK OFF-

Kesunyian melanda mereka berdua setelah Ella selesai bercerita. Hanya terdengar suara angin musim gugur yang masih meniup dedaunan. Suasana yang Ella sudah ia pikirkan  akan terjadi seusai ia menceritakan hal tersebut.

“Gomen.” Ucapnya seraya menundukkan kepalanya, masih dengan suara yang lirih. Ia tahu Yuma terkejut dan bahkan menahan amarahnya. Tak seharusnya ia menceritakan masa lalunya bersama Aki. Tak seharusnya ia masih memendam perasaannya terhadap Aki dan tak seharusnya ia membohongi perasaannya juga perasaan Yuma.

Gomen, aku masih memendam perasaanku terhadap Aki yang tak kuketahui dimana keberadaannya sampai sekarang.” Ucapnya lagi kepada Yuma yang masih membisu, menerawang mega-mega jingga.

Daijoubu dayo, Ella-chan.” ujar Yuma dengan lembut, namun masih bisa dilihat Ella sorot mata Yuma penuh lara. Rasa bersalah muncul menghantui Ella. Ia takut Yuma akan meninggalkannya seperti Aki. Ia takut kehilangan kedua kalinya. Ia takut... sampai tak terasa kilauan bening menetes dari kedua maniknya. Tetesan hingga isakan terlihat dari gerak tubuhnya. Hingga ia merasakan sebuah lengan melingkari tubuhnya dari belakang. Yuma memeluknya.

“I’ll be there for you.”

Bisikan yang mengalun indah bagai lullaby terdengar di telinga kirinya. Ia membalikkan badannya dan membalas pelukan Yuma. Ella menangis sekencang-kencangnya dalam pelukan Yuma. Ia masih merasa bersalah kepada Yuma.

“Sssh, Yakusoku. Itsumademo.”

Kata-kata yang bagaikan pelangi dalam badai yang menghantamnya. Ia merasa lega Yuma menjadi pasangan hidupnya. Ia tak menyesal memilihnya. Perlahan tangisannya mereda karena usapan lembut di punggungnya.

“Bolehkah aku tahu siapa Aki yang masih tak tahu dimana keberadaannya itu?” tanya Yuma di sela-sela pelukannya terhadap Ella.

“Mimegumi Aki.” Ucap Ella lirih.

“Eeh? Siapa?”

“Mimegumi Aki, Yuma-kun.”

Seketika Yuma berjalan ke suatu tempat. Ke lemari, di sebuah kotak yang sudah usang. Dia mengambil sebuah surat. Lalu menyerahkannya kepada Ella.

“Apa ini?” tanya Ella dengan raut kebingungan.

“Ini adalah sebuah surat yang Aki titipkan kepadaku saat di Belanda, sebulan sebelum ia tak lagi bernafas di bumi ini.” Dengan terburu-buru Ella mebuuka surat itu dan membacanya. Air mata yang sudah reda kini menggenang lagi di pelupuk matanya.

Ella kutemukan sebuah lokasi yang cocok untuk pondok kita.

Sepetak tanah dikelilingi bunga tulip berbagai warna.

Pemandangan saat sore hari akan membuatmu terbelalak kagum.

Kurasa usahaku yang membuatku menghilang dari pandangan matamu setimpal.

Kau pasti menyukai pondok kita.

Kakinya goyah, tubuhnya seketika merosot. Ia merasa seperti langit runtuh di atas  kepalanya. Ia kini sudah tahu keberadaan Aki, tak lagi berpijak di bumi. Ia terharu sekaligus sedih menetahui alasan sesungguhnya Aki menghilang dari pandangannya.

Kemudian ia menatap kedua mata Yuma yang juga menyiaratkan kesedihan. Ia menyadari bahwa perasaannya terhadap Aki adalah sebuah kenangan yang manis untuknya. Tetapi Ia juga menyadari bahwa sosok di depannya itu adalah masa yang ia akan rajut selamanya.

Gomene, Yuma-kun.”

Daijoubu ne Ella-chan. Aku tahu bagaimana perasaanmu.”

“Ajari aku untuk lebih mencintaimu.”

“Un, akan aku buat kamu tenggelam dalam cintaku.”

Bersamaan dengan terbenamnya sang bagaskara di ufuk barat, Ella menutup lembaran masa lalunya tanpa diselimuti sebuah misteri. Ia memulai Bab Satu Kisah Agung dimana setiap babnya lebih romantis dari bab sebelumnya yang berlangsung sampai mata mereka tertutup dan tak terbuka lagi.
終(OWARI)


A/N: Sebenarnya saya sudah post ini di wattpad saya. Tapi ya karena seseorang bilang susah dibuka ya jadinya saya bikin blog deh -__- *melirik seseorang* Monggo dibaca karya amburadul saya .__.


Kamus:
Aki: Musim gugur
Doushita: Ada apa?
Iie: Tidak
(name)-chan: Panggilan untuk seseorang yang sudah akrab
(name)-kun: Panggilan yang bisanya untuk laki-laki
Yabai: Oh tidak/Oh my God/Gawat juga boleh
Chotto matte: Tunggu sebentar
Baka: Bodoh
Anoo/Etto: Anu (yah semacam basa-basi agak kikuk gimana gitu -__-)
Sumimasen: Maaf
Sensei: Guru
Daijoubu/Dijoubu dayo: Tidak apa-apa
Arigatou/arigatou gozaimasu: Terima kasih
Ikou/Ikuzo: Ayo
Hai: Iya
Tsundere: Yah yang galak-galak tapi suka(?) yang sok gak suka padahal suka gitu lah, googling sendiri deh -__-
Saa na: Entahlah (mungkin?)
Mochiron desu: Tentu saja
Gomen: Maaf
Yakusoku: Janji
Itsumademo: Selamanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar